Bismillahir-Rahmaanir-Rahiem
Ada dua versi pandangan Ulama tentang siapa itu IBLIS
Versi
pertama
Bahwa iblis itu termasuk MALAIKAT, pandangan ini antara
lain oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Sa`ied bin Al-Musayyab. Pendapat ini
yg kemudian dipilih oleh Syekh Maufiquddin, Syekh Abu Hasan Al-Asy`arie,
dan para Imam Malikiyah & Ibnu Jarier Ath-Thobary..
Al-Baghowie
berkata : inilah pendapat mayoritas ulama tafsir (jumhur al-mufassir),
pendapat ini semata-mata didasarkan kepada FirmanNya yg menyerukan
Malaikat utk berSujud kpd Adam
" وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوْا لآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ ..." (البقرة 34)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali Iblis ; ... (QS Al-Baqoroh 34). intahaa
Tampilkan postingan dengan label Tafsir atTafkier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir atTafkier. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 September 2013
Sabtu, 03 Agustus 2013
"Laelatul-Qodr" = Malam ke 27 Ramadhan. Benarkah ?.
by Hamba Allah
Malam al-Qodar (Laelatul-Qodar) memang benar adanya, keberadaannya telah banyak di singgung dalam literatur keislaman yang sesuai dengan petunjuk al-Quran, al-Hadits dan Atsarus-Shohabiy, juga telah di buktikan oleh ijtihad para ulama
Tentang malam kemulian ini, setidaknya bisa kita telisik lebih jauh tanda-tandanya dengan tiga pendekatan sebagai berikut
Pertama, berdasarkan al-Quran
lihat surah al-Qodar, maka akan kita dapati berikut ini
a). firman Allah swt berupa “WAMA ADROOKA” jelas ini merupakan indikasi yang nyata bagi kita betapa mungkinnya malam al-Qodar itu bisa kita dapati secara nyata, seandainya shighot dalam firman-Nya berbunyi “WAMA YUDRIIKA” maka niscaya malam al-Qodar itu merupakan sesuatu yang ghaib, tak kasat mata dan rimbanya pun tidak bisa kita temukan
Jumat, 28 Juni 2013
Melirik Tafsir Alternatif pada Ayat 15 Surah ar-Ra'du (Tafsir bid-Diroyah)
by Billahi Abdy AbduHu
Maksudnya : "Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari". (QS. Ar-Ra`du 15).
أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ
مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلالُهُمْ بِالْغُدُوِّ
وَالآصَالِ
صدق الله العظيم
Maksudnya : "Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari". (QS. Ar-Ra`du 15).
Kata "Man" sebagai yang di tunjuk dalam ayat di atas, juga pada ayat-ayat lainnya dalam al-Quran, biasanya di gunakan untuk menunjuk kepada makhluq Tuhan yang berakal, ini artinya "MAN" dalam ayat itu menunjuk kepada tiga makhluq Tuhan ; manusia, jin dan malaikat, yang bila ditinjau dari struktur kejadian dan penciptaannya ketiganya jelas terlihat berbeda satu sama lain.
Jumat, 08 April 2011
Perspektif Gender Dalam Islam. (Bag 3) .. selesai ..
oleh Nasaruddin Umar Dosen IAIN Jakarta
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Al-Qur'an dan Nabi Muhammad telah melakukan proses awal dalam membebaskan manusia, khususnya kaum perempuan, dari cengkeraman teologi, mitos, dan budaya jahiliyah. Al-Qur'an dan hadits yang berbicara tentang beberapa kasus tertentu, hendaknya dilihat sebagi suatu proses yang mengarah kepada suatu tujuan umum (maqashid al-syari'ah). Al-Qur'an mempunyai seni tersendiri dalam memperkenalkan dan menyampaikan ide-idenya, misalnya dengan :
a) disampaikan secara bertahap (al-tadrij fi al-tasyri),
b) berangsur (taqlil al-taklif), dan
c) tanpa memberatkan (a'dam al-haraj).
Sebagai contoh, upaya menghapuskan minuman yang memabukkan (iskar), diperlukan empat ayat turun secara bertahap. Jika kita perhatikan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan persoalan perbudakan, kewarisan, dan poligami, runtut turunnya ayat-ayat tersebut mengarah kepada suatu tujuan, yaitu mewujudkan keadilan dan menegakkan amanah dalam masyarakat.133
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Al-Qur'an dan Nabi Muhammad telah melakukan proses awal dalam membebaskan manusia, khususnya kaum perempuan, dari cengkeraman teologi, mitos, dan budaya jahiliyah. Al-Qur'an dan hadits yang berbicara tentang beberapa kasus tertentu, hendaknya dilihat sebagi suatu proses yang mengarah kepada suatu tujuan umum (maqashid al-syari'ah). Al-Qur'an mempunyai seni tersendiri dalam memperkenalkan dan menyampaikan ide-idenya, misalnya dengan :
a) disampaikan secara bertahap (al-tadrij fi al-tasyri),
b) berangsur (taqlil al-taklif), dan
c) tanpa memberatkan (a'dam al-haraj).
Sebagai contoh, upaya menghapuskan minuman yang memabukkan (iskar), diperlukan empat ayat turun secara bertahap. Jika kita perhatikan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan persoalan perbudakan, kewarisan, dan poligami, runtut turunnya ayat-ayat tersebut mengarah kepada suatu tujuan, yaitu mewujudkan keadilan dan menegakkan amanah dalam masyarakat.133
Perspektif Gender Dalam Islam. (Bag 2)
oleh Nasaruddin Umar Dosen IAIN Jakarta
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Pemahaman yang keliru mengenai asal-usul kejadian tersebut bisa melahirkan sikap ambivalensi di kalangan perempuan; di satu pihak ditantang untuk berprestasi dan mengembangkan karier agar tidak selalu menjadi beban laki-laki tetapi di lain pihak, ketika seorang perempuan mencapai karier puncak, keberadaannya sebagai perempuan shaleh dipertanyakan. Seolah-olah keberhasilan dan prestasi perempuan tidak cukup hanya diukur oleh suatu standar profesional tetapi juga seberapa jauh hal itu direlakan kaum laki-laki. Kondisi yang demikian ini tidak mendukung terwujudnya khalifat-un fi 'l-ardl yang ideal, karena itu persoalan ini perlu diadakan klarifikasi. Fungsi Keberadaan Laki-laki dan PerempuanKeberadaan Hawa untuk melengkapi salah satu hasrat Adam. Anggapan seperti ini dapat dilihat dalam Kitab Tawrat dan Kitab Injil, seperti dalam Genesis/2:18-19 ditegaskan bahwa tidak baik seorang laki-laki sendirian dan karenanya Eva diciptakan sebagai pelayan yang tepat untuk Adam (a helper suitable for him).124
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Pemahaman yang keliru mengenai asal-usul kejadian tersebut bisa melahirkan sikap ambivalensi di kalangan perempuan; di satu pihak ditantang untuk berprestasi dan mengembangkan karier agar tidak selalu menjadi beban laki-laki tetapi di lain pihak, ketika seorang perempuan mencapai karier puncak, keberadaannya sebagai perempuan shaleh dipertanyakan. Seolah-olah keberhasilan dan prestasi perempuan tidak cukup hanya diukur oleh suatu standar profesional tetapi juga seberapa jauh hal itu direlakan kaum laki-laki. Kondisi yang demikian ini tidak mendukung terwujudnya khalifat-un fi 'l-ardl yang ideal, karena itu persoalan ini perlu diadakan klarifikasi. Fungsi Keberadaan Laki-laki dan PerempuanKeberadaan Hawa untuk melengkapi salah satu hasrat Adam. Anggapan seperti ini dapat dilihat dalam Kitab Tawrat dan Kitab Injil, seperti dalam Genesis/2:18-19 ditegaskan bahwa tidak baik seorang laki-laki sendirian dan karenanya Eva diciptakan sebagai pelayan yang tepat untuk Adam (a helper suitable for him).124
Perspektif Gender Dalam Islam. (Bag 1)
oleh Nasaruddin Umar Dosen IAIN Jakarta
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Dalam al-Qur'an tidak dijumpai ayat-ayat secara rinci menceritakan asal-usul kejadian perempuan. Kata Hawa yang selama ini dipersepsikan sebagai perempuan yang menjadi isteri Adam sama sekali tidak pernah ditemukan dalam al-Qur'an, bahkan keberadaan Adam sebagai manusia pertama dan berjenis kelamin laki-laki masih dipermasalahkan. 116
Satu-satunya ayat yang mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan yaitu Q., s. al-Nisa'/4:1 sebagai berikut:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari "diri" yang satu (a single self), dan dari padanya Allah menciptakan pasangan (pair)-nya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Redaktur Pelaksana Jurnal Pemikiran Islam Paramadina : “Misteri Nafs al-Wahidah”
Dalam al-Qur'an tidak dijumpai ayat-ayat secara rinci menceritakan asal-usul kejadian perempuan. Kata Hawa yang selama ini dipersepsikan sebagai perempuan yang menjadi isteri Adam sama sekali tidak pernah ditemukan dalam al-Qur'an, bahkan keberadaan Adam sebagai manusia pertama dan berjenis kelamin laki-laki masih dipermasalahkan. 116
Satu-satunya ayat yang mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan yaitu Q., s. al-Nisa'/4:1 sebagai berikut:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari "diri" yang satu (a single self), dan dari padanya Allah menciptakan pasangan (pair)-nya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Langganan:
Postingan (Atom)


