Tampilkan postingan dengan label Fatwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Menyingkap Soal Ijtihadiyyah Syafi`iyah : Tentang Sholat "I`adah Dzuhur" Setelah Pelaksanaan Sholat Jum`at

إعادة الجمعة ظهراً

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

سؤال : من لم يعلم قطعاً أن جمعته من الجمعات الصحيحة بأن لم يعلم قطعاً أن جمعته سابقة على جميع الجمعات في البلد أو أن جمعته محتاج إليها هل يلزمه فعل الظهر أي فعل أربع ركعات بعد الجمعة ؟

الجواب : نعم يجب عليه فعل الظهر عند علماء الشافعية والحنفية
ففي الشيرواني ج2ص 427/ س 25 عند عبارة التحفة ومن شك في أنه من الأولين أو الآخرين أو في أن التعدد بحاجة ٍ أولاً لزمته الإعادة انتهى

Jumat, 29 April 2011

Menelisik Lebih Jauh Tentang Bid`ah : FAHAM-FAHAM YG PERLU DILURUSKAN. (Bag .2)

Oleh. Sayyid Muhammad Alawy al-Maliky.

Karena itu harus kami jelaskan di sini sebuah persoalan penting yang dengannya banyak keganjilan akan menjadi jelas, insya Allah.

Dalam persoalan ini yang berbicara adalah SYARIE’ yang bijak. Lisan syarie’ adalah lisan SYAR`IE. Maka untuk memahami ucapannya harus menggunakan SYAR`IE yang dibawa SYARIE’. Jika Kita telah mengetahui bahwa bid’ah pada dasarnya adalah setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya maka jangan sampai lenyap dari hatimu bahwa penambahan dan pembuatan yang tercela di sini adalah penambahan dalam urusan agama agar tambahan itu menjadi urusan agama, dan menambahi syari’at agar tambahan itu mengambil bentuk syari’ah. Lalu akhirnya tambahan itu menjadi syari’at yang dipatuhi yang dinisbatkan kepada pemilik syari’ah. Bid’ah model inilah yang mendapat ancaman dari Nabi sholollah alahi was salam :

Kamis, 28 April 2011

Menelisik Lebih Jauh Tentang Bid`ah : FAHAM-FAHAM YG PERLU DILURUSKAN. (Bag .1)

Oleh. Sayyid Muhammad Alawy al-Maliky

Ini adalah ringkasan dari kitab MAFAHIM YAJIBU AN TUSHAHHAH => “Faham-faham Yang Perlu diluruskan” karya Sayyid Muhammad Alawy al-Maliky yang membahas tentang bid’ah. Di dalamnya dibahas tentang pemahaman dari makna bid’ah menurut Imam Syatibi, yaitu bid’ah secara istilah dan bid’ah secara bahasa.

Alhamdulillah .. dari kitab ini, makna bid’ah dari Imam Syatibi diterangkan secara amat baik, serta diterangkan pula di mana tempat bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah. Dari kitab ini pula, makna bid’ah Imam Syatibi berselaras dengan makna/ klasifikasi bid’ah menurut Imam Syafi’i.

BID’AH SYAR’IYYAH, BID’AH LUGHAWIYYAH;

Melapangkan Jalan Dalam Pengamalan Islam Kaffah

Kami sering mendapatkan kritik tajam saat pengklasifikasian bid’ah dalam dua bagian besar, yaitu bid’ah terpuji dan tercela. Para pengkritik melakukan penolakkan secara keras terhadap pengklasifikasian ini. Bahkan mereka menuduh yang mengklasifikasikan tersebut sebagai golongan fasik dan sesat. Pengklasifikasian bertentangan dengan sabda Nabi shalallah alahi was salam yang jelas : “Setiap bid’ah itu sesat”. Teks hadits ini jelas menunjukkan keumuman dan menggambarkan bid’ah sebagai sesat.

Lagi, menyoal hukum TAHLILAN.

Oleh. Habib Mundzier Al-Musawwa.

Lagi, TAHLILAN diperdebatkan dan anehnya dari kaum muslimin sendiri yang paling semangat untuk melenyapkannya. Gak tau kenapa. di bawah ini contoh dari argument mereka. padahal mungkin madzhab mereka bukan asy-Syafiiyyah ...

Konon menurut mereka … Imam Asy syafi'i yakni seorang imamnya para ulama, mujtahid muthlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang di negeri kita banyak yang mengakuinya, bermadzhab & mengikuti beliau, padahal dalam kitab monumentalnya dengan tegas beliau berkata "Aku BENCI ma'tam yaitu berkumpul2 di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yg demikian itu akan memperbarui kesedihan" (Al Umm 1/318). kata2 beliau sangat jelas dan tegas tidak bisa di takwil dengan maksud lain" !. Lihat & cobalah perhatikan pernyataan beliau tersebut, baru berkumpul saja sudah di larang, bagaimana jika disertai dengan apa yang dinamakan TAHLILAN ?!.

Imam Ibn Qoyyim Al-Jauzy dalam Zaadul ma'aad jus I/527-528 menegaskan bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dg alasan untuk takziyah dan membaca qur'an untuk mayit adalah bidah yang tidak ada petunjuk dari nabi saw bahkan sahabat menggolongkan perbuatan itu sebagai niyahah / meratap. Dengan demikian, kesimpulan mereka adalah TAHLILAN BUKANLAH AJARAN ISLAM MELAINKAN ADOPSI DARI AGAMA HINDU ... begitulah hujjah mereka.